Denmark dan Korea Selatan Tidak Lebih Baik Dari Indonesia

Ternyata, negara yang kuat dalam bulutangkis pun tidak semudah itu bisa mencuri poin dari tim bulutangkis paling superior di dunia saat ini : Cina. Tercatat, selama pagelaran Piala Sudirman 2013, hanya dua negara yang mampu mencuri poin dari Cina : Denmark dan Indonesia.

Dan dalam hal mencuri poin ini, Indonesia lebih baik daripada Denmark karena Indonesia bisa mencuri dua poin, yaitu di nomor ganda campuran dan ganda putra. Sedangkan Denmark hanya mampu mencuri poin di nomor ganda putra.

Lawan ganda putra yang dihadapi Denmark dan Indonesia saat menghadapi Cina pun sama, yaitu peraih medali emas olimpiade 2012 Cai Yun/Fu Haifeng. Bedanya, Indonesia menggunakan pemain mudanya saat melawan Cina, yaitu pasangan Angga Pratama/Rian Agung Saputro yang masih berumur 22 tahun, sedangkan Denmark menggunakan pasangan senior Mathias Boe/Carsten Morgensen yang masing-masing berumur 33 tahun dan 30 tahun. Saya pikir Indonesia juga lebih baik disini karena bisa bangkit dari kekalahan di set satu dan memaksakan rubber game hingga akhirnya menang, mengingat usia Angga/Ryan yang masih muda. Namun saya juga hargai usaha Denmark yang mampu menaklukkan ganda putra Cina ini dalam straight set.

Korea Selatan juga tampak tidak berdaya melawan Cina, padahal banyak pihak yang menggantungkan asa pada Korea untuk membuat Cina ‘puasa’ gelar sejenak. Nomor ganda campuran lepas begitu saja, sedangkan Indonesia mampu memperjuangkan kemenangan sampai membuat Cina khawatir. Nomor ganda putra Korea Selatan sebenarnya mampu bermain bagus, hanya saja permainan mereka tidak secepat, secerdik dan serapat Angga Pratama/Ryan Agung Saputro.

Jadi, kegagalan Indonesia di Piala Sudirman 2013 ini bukan karena Indonesia bermain jelek. Indonesia bermain bagus, sangat bagus malah. Malahan, kekalahan 3-2 Indonesia ini adalah hasil terbaik Indonesia selama bertemu Cina di kejuaraan beregu dalam sepuluh tahun terakhir, dimana dalam kejuaraan beregu seperti Piala Sudirman dan Piala Thomas-Uber kita biasanya kalah telak 3-0, dan kalaupun bisa menang kita paling-paling menang 3-1. Walau kita sempat kalah 5-0 di babak penyisihan grup, yang kita turunkan waktu itu adalah pemain-pemain pelapis, itupun sempat memaksakan rubber game di nomor ganda putra dan tunggal putri. Lagipula, tidak semua negara mampu mencuri walau hanya satu angka dari Cina ‘kan ?

Kekalahan 3-2 atas Cina tidak lantas berarti bahwa bulutangkis Indonesia mengalami kemunduran. Memang benar kita kalah di perempatfinal, namun kita kalah tipis dari Cina, dan buat saya itu bukan sejarah buruk. Dengan mencuri dua angka dari Cina, Indonesia memberi pesan pada dunia bahwa bulutangkis Indonesia mulai bangkit. Kalau mau menjadi juara, memang cepat atau lambat kita harus bertemu dan mengalahkan Cina.

Terimakasih tim Indonesia. Terimakasih pak Rexy. Terimakasih pak Gita Wirjawan. Mari kita rebut medali emas di Kejuaraan Dunia 2013 Guangzhou, SEA Games, dan Piala Thomas-Uber 2014 India. Indonesia bisa berjaya lagi, asal seperti yang dibilang Susi Susanti : KONSISTEN !

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Badminton

Silahkan berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s