Category Archives: Opini

Hemat = Modern

Sekarang, buang jauh-jauh pikiran bahwa orang-orang kaya yang punya barang-barang bagus yang sebenarnya tidak mereka butuhkan itu menunjukkan kalau mereka kaya, mereka hebat, dan mereka adalah manusua modern yang berhasil mengikuti globalisasi. Mengapa begitu ? Pada jaman ini, atau paling tidak ke masa depan, orang-orang kaya semacam itu sudah dunia katakan bodoh, jadul, tidak modern lagi, melainkan immodernisasi (proses menjadi tidak modern lagi).

Saya tidak melarang anda untuk menjadi kaya, bahkan saya menganjurkannya karena dengan menjadi kaya, anda bisa memenuhi kebutuhan anda dengan lebih baik. Namun jika anda kaya, tetaplah berhemat dan jangan hidup hedonis alias jor-joran. Itu tidak baik.

Itulah yang saya dapatkan dari pelajaran sosiologi. Salah satu ciri-ciri orang yang modern adalah orang yang hemat. Namun hemat dalam konteks ini bukan berarti pelit. Kita tetap perlu mengeluarkan uang kita dan membelanjakannya untuk sesuatu yang benar-benar kita butuhkan. Jangan sampai saya mendengar setelah artikel ini beredar, akan ada orang yang mati kelaparan karena mereka mengikuti ‘hemat’ yang saya katakan.

Hemat di sini adalah tidak membeli sesuatu yang sebenarnya kita tidak membutuhkannya. Kenapa kita memboroskan uang kita untuk hal-hal yang kita tidak butuhkan ? Ahli ekonomi Safir Senduk bahkan mengatakan jika ingin kantong kita aman, jangan pernah bayar lebih untuk sesuatu yang kita tidak perlu, artinya sama dengan yang tadi.

Uang seperti itu ‘kan bisa kita sumbangkan untuk membantu mereka yang tidak punya, buat beli pulsa, buat beli bensin, buat beli bolpen baru (hobi saya), atau yang lainnya deh. Kalau punya uang lebih, sebaiknya kita tabung aja, atau kita masukkan reksadana supaya uang kita tidak hilang tersapu inflasi.

Ingat, orang yang hemat adalah orang yang berpikiran modern !

 

 

Tinggalkan komentar

Filed under Opini

Semangat Indonesia Mengajar

Gerakan Indonesia Mengajar adalah sebuah gerakan yang digagas oleh mantan mahasiswa UGM dan rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, pada tahun 2009. Gerakan ini bertujuan untuk memajukan pendidikan Indonesia di daerah pelosok dengan cara mengirim mahasiswa lulusan perguruan tinggi untuk mengajar di daerah pelosok selama 1 tahun. Mereka akan tinggal bersama penduduk, yang akan menjadi keluarga dan saudara baru mereka.

Indonesia Mengajar mempunyai semangat tinggi untuk memajukan pendidikan Indonesia, seperti cita-cita para pendiri negeri ini jauh sebelum Nusantara merdeka. Para pengajar di daerah terpencil itu rata-rata adalah mahasiswa yang cerdas, lulusan terbaik, dengan segala potensi untuk hidup nyaman, gaji tinggi, jabatan yang menjajikan dan segala macam kemewahan duniawi. Tetapi mereka tinggalkan itu semua untuk satu tujuan : Memajukan pendidikan Indonesia. Anggapan gerakan ini, pendidikan adalah kepedulian bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah.

Sebagai pelajar Indonesia, semangat Indonesia Mengajar ini perlu kita adopsi, semangat untuk berbagi ilmu. Tidak berarti kita harus pergi ke daerah terpencil untuk membagi ilmu kita, cukup dengan membagi ilmu kita di lingkungan terdekat, misalkan kepada kawan atau keluarga, itu sudah langkah awal yang baik.

Lebih jauh lagi, kita bisa memanfaatkan media yang ada seperti Facebook, Twitter, Blog, Tumblr, Yahoo! Answers dan yang lainnya untuk saling berbagi ilmu.

Kita seringkali melihat banyak orang yang mempunyai ilmu, tetapi mereka menyembunyikannya. Ketika ditanya mengapa mereka melakukan itu, jawaban mereka beragam. Ada yang menjawab bahwa ilmu mereka mereka dapatkan dengan susah payah, ada yang menjawab buat apa berbagi ilmu, ada pula yang malas, ada yang karena mereka ingin menggunakan ilmunya supaya bisa ‘menang sendiri’.

Berbagi ilmu tidak ada ruginya, bahkan semakin anda rajin membagi ilmu, ilmu anda akan semakin bertambah. Tidak pernah ada orang yang kehabisan ilmu karena sering mengajar. Kalau memang seperti itu, tentu tidak ada lagi yang namanya guru.
Tidak ada manusia yang sempurna, karena itu kita perlu bekerjasama dengan insan-insan lainnya untuk saling melengkapi, termasuk dalam hal ilmu.

Satu hal yang menarik dari gerakan Indonesia Mengajar adalah keinginan untuk membangun manusia Indonesia yang berkualitas global tanpa melupakan grassroots (asal muasal) mereka. Sebagai orang Indonesia, kita tidak boleh lupa asal-muasal kita. Kita orang Indonesia, lahir di Indonesia. Meskipun berbeda suku dan bahasa asal, kita tetap dipersatukan dalam wadah besar yang dinamakan Indonesia.

Sudah selayaknya sesama orang Indonesia saling berbagi ilmu, baik dengan bangsa sendiri maupun dengan dunia.

Yang terakhir, ada baiknya kita mencontoh cara belajar bangsa Belanda. Bangsa Belanda dikenal sebagai bangsa dengan banyak keterampilan. 80% populasi Belanda bisa berbahasa Inggris dengan fasih. Rata-rata orang Belanda bisa bahasa Inggris, Belanda, Jerman. Apa sebabnya? Itu disebabkan karena sistem pendidikan di Belanda. Di Belanda, apabila anda melakukan kesalahan, maka guru dan teman-teman anda akan membetulkan kesalahan anda tanpa mengolok-olok anda. Apabila ada murid yang tertinggal, maka teman-temannya akan membantu supaya ia sejajar dengan mereka.

Hal ini sangat berbeda di Indonesia. Apabila ada yang melakukan kesalahan, terutama ketika berpidato, berbicara atau mengerjakan soal, pasti teman-temannya akan mengolok-oloknya habis-habisan. Kalau anak itu bukan anak bermental baja, pasti dia akan minder, dan pada akhirnya tidak akan berani untuk menjadi ‘maju’. Lenyaplah satu generasi muda berpotensi. Tanpa kita sadari, hal sepele inilah salah satu penyebab bangsa Indonesia tertinggal.
Pada akhirnya, saya dan anda semua tentu berharap supaya Indonesia menjadi lebih baik lagi. Mari, dengan semangat nasionalisme, kita berbagi ilmu dan keterampilan dengan cara yang baik. Tiru mantan penjajah kita yang tidak segan berbagi ilmu, yang menyebabkan bangsa Belanda menjadi salah satu bangsa paling pintar.

1 Komentar

Filed under Gerakan Indonesia Mengajar, indonesia, Opini, Pendidikan, Solusi Indonesia

Plagiat & Plagiator Blog

Plagiat adalah penjiplakan mentah-mentah karya orang lain, sedangkan plagiator adalah pelakunya.

Plagiator dibenci orang dimana-mana, terutama orang yang karyanya dijiplak oleh plagiator. Berbeda dengan orang yang menghargai karya orang lain (mereka menyalin dengan mencantumkan sumbernya), plagiator tidak pernah mencantumkan sumber asal artikel yang mereka plagiat (tentu saja, namanya juga plagiator).

Mengapa orang memplagiat karya orang lain ?

Alasannya macam-macam. Tetapi alasan utama adalah mereka tidak percaya dengan kreativitas mereka sendiri.

Dulu ketika blog ini baru saja online, saya sempat berpikir untuk meng-copas artikel-artikel bagus milik orang lain. Tetapi saya buang jauh pikiran itu dan saya memutuskan untuk menulis semua isi blog ini sendiri, meskipun untuk ide ada yang berasal dari blog orang lain dan setiap yang saya copy dari tempat lain pasti saya cantumkan sumbernya. Mengapa ? Karena saya paham, bahwa karya-karya milik mereka sangat berharga untuk mereka dan setiap orang suka kalau karya mereka dihargai.

Karena itu, hargai karya blogger lain, entah dengan memuji atau sekadar memberi komentar, karena hal itu seperti mendapat “award” bagi blogger yang dihargai. Jujur saja, tidak mudah membuat karya, apalagi tulisan. Tidak lupa, cantumkan sumber kalau kalian menyalin karya orang lain, seperti yang dilakukan suatu blog amat terkenal : terselubung

Hanya plagiator yang tidak bisa merasakan nikmatnya berkarya dan menghargai.

Dampak buruk mem-plagiat

Dampak buruknya banyak. Berikut ini adalah dampak buruk memplagiat :
1. Plagiator adalah orang yang tidak percaya kreativitas mereka. Setiap orang yang berkarya pasti percaya dengan kreativitas mereka. Hanya plagiator yang tidak percaya.
2. Plagiator tidak menghargai karya orang lain. Orang yang menghargai karya orang lain minimal akan mencantumkan sumber, menghargai atau memuji. Plagiator tidak akan melakukan hal itu.
3. Plagiator punya cap buruk. Kalau mereka ketahuan memplagiat karya orang lain, mereka akan dicap buruk sebagia plagiator dan karya-karya mereka selamanya akan dianggap sebagai plagiat.
4. Dan masih banyak lagi. Anda mau menambahkan ? Silahkan isi di form komentar.

Bagaimana kalau karya anda diplagiat ?

Respon terserah anda. Blog saya sendiri sudah berkali-kali diplagiat orang. Kalau saya memilih untuk bersabar dan memilih untuk tidak menjelek-jelekkan mereka yang memplagiat blog ini. Tulisan ini saya dedikasikan untuk teman saya yang blognya ikut diplagiat oleh plagiator, yaitu Fata Hanifa .

Justru sisi positifnya, diplagiat orang lain berarti karya anda punya kualitas. Karena, siapa yang mau memplagiat tulisan yang biasa-biasa saja ?

Jadi buat blogger yang diplagiat, teruslah berkarya 😀 ! Anda sudah membuktikan kalau karya anda bukan karya biasa, tetapi karya luar biasa !

Dan buat para plagiator, segeralah bertobat.

Di tulisan saya selanjutnya, insya Allah saya akan mebahas tentang menghargai karya blogger lain.

7 Komentar

Filed under Blog, Opini, Plagiator

Kalau Ingin Membuat #Indonesia Jadi Trending Topics Twitter

Beberapa hari yang lalu, lagi-lagi muncul Trending Topics (selanjutnya penulis singkat menjadi TT) dari Indonesia, yaitu TVOne dan Blokir.

Ketika penulis klik di TT itu, penulis melihat banyak sekali tweet. Yang menarik perhatian penulis adalah tweet dari Abigail Breslin (twitter ID @abogelbersin) yang berbunyi : “keong racun, blokir, sama tvone gampang bngt jadi trentop. tp knp #INDONESIA sama #VOTEKOMODO susahnya”.

Lalu penulis me-reply tweet itu dengan jawaban “Harus di-tweet dalam jumlah banyak dan dalam waktu bersamaan, baru jadi TT”

Berawal dari percakapan singkat itulah penulis mendapatkan ide untuk menulis artikel singkat ini.

Suatu tweet bisa menjadi TT bila ditweet oleh orang banyak dalam waktu yang bersamaan. Sehingga untuk menjadi TT, bisa penulis simpulkan langkah-langkah berikut :

1. Posting tweet dengan hashtag #Indonesia
2. Bikin tweet yang seunik dan semenarik mungkin dengan #Indonesia
3. Ajak teman-teman anda untuk posting tweet dengan #Indonesia
4. Beritahukan rencana ini ke teman-teman yang lain
5. Atau bisa saja copas artikel ini 😀

Yang terpenting, semua orang harus posting dengan #Indonesia dalam waktu yang bersamaan. Tetapi menurut analisis penulis, pada tanggal 17 Agustus pun Indonesia akan masuk Trending Topics, karena hari kemerdekaan adalah momen penting yang pasti akan banyak di-tweet oleh tweeple Indonesia. Tetapi jangan mau kalah dengan tweeple asal Gabon, karena Gabon juga mencapai kemerdekaan pada 17 Agustus, meskipun tahunnya tahun 1960, sedangkan Indonesia merdeka tahun 1945.

2 Komentar

Filed under indonesia, Internet, Opini, Twitter

Mintalah karcis saat parkir

Banyaknya jumlah penduduk di Indonesia berdampak pada ramainya tempat-tempat umum. Bukan hanya tempat umum, bahkan tempat yang sangat umum seperti tempat fotokopi, warung bakso dll. juga dipadati pengunjung.

Kebanyakan orang-orang yang datang berkunjung ke tempat-tempat itu menggunakan kendaraan. Yang paling umum adalah motor. Supaya tidak berantakan, ada seseorang yang mengatur : tukang parkir.

Tarif parkir untuk motor adalah Rp 1000. Mungkin itu bukan jumlah yang besar. Tapi, coba anda ingat-ingat lagi, apakah anda DIBERI KARCIS OLEH TUKANG PARKIR ?

Memang sepele, namun ini berpengaruh besar, karena sangat mempengaruhi kemana uang kita selanjutnya : ke kantong tukang parkir atau ke keuangan daerah. Kalau anda diberi karcis, berarti uang anda untuk bayar parkir masuk ke keuangan pemerintah. Kalau anda tidak diberi karcis, uang anda masuk ke kantong pribadi tukang parkir.

Sayangnya, berdasarkan pengamatan saya bertahun-tahun di Solo, banyak sekali tukang parkir yang tidak memberikan karcis. Sejauh ini, hanya satu tempat di Solo yang tukang parkirnya memberikan karcis tanpa diminta.

Saran saya, mintalah karcis ketika parkir. Kalau tidak diberi, tidak usah bayar parkir saja.

6 Komentar

Filed under Opini

Hemat = Modern

Sekarang, buang jauh-jauh pikiran bahwa orang-orang kaya yang punya barang-barang bagus yang sebenarnya tidak mereka butuhkan itu menunjukkan kalau mereka kaya, mereka hebat, dan mereka adalah manusua modern yang berhasil mengikuti globalisasi. Mengapa begitu ? Pada jaman ini, atau paling tidak ke masa depan, orang-orang kaya semacam itu sudah dunia katakan bodoh, jadul, tidak modern lagi, melainkan immodernisasi (proses menjadi tidak modern lagi).

Saya tidak melarang anda untuk menjadi kaya, bahkan saya menganjurkannya karena dengan menjadi kaya, anda bisa memenuhi kebutuhan anda dengan lebih baik. Namun jika anda kaya, tetaplah berhemat dan jangan hidup hedonis alias jor-joran. Itu tidak baik.

Itulah yang saya dapatkan dari pelajaran sosiologi. Salah satu ciri-ciri orang yang modern adalah orang yang hemat. Namun hemat dalam konteks ini bukan berarti pelit. Kita tetap perlu mengeluarkan uang kita dan membelanjakannya untuk sesuatu yang benar-benar kita butuhkan. Jangan sampai saya mendengar setelah artikel ini beredar, akan ada orang yang mati kelaparan karena mereka mengikuti ‘hemat’ yang saya katakan.

Hemat di sini adalah tidak membeli sesuatu yang sebenarnya kita tidak membutuhkannya. Kenapa kita memboroskan uang kita untuk hal-hal yang kita tidak butuhkan ? Ahli ekonomi Safir Senduk bahkan mengatakan jika ingin kantong kita aman, jangan pernah bayar lebih untuk sesuatu yang kita tidak perlu, artinya sama dengan yang tadi.

Uang seperti itu ‘kan bisa kita sumbangkan untuk membantu mereka yang tidak punya, buat beli pulsa, buat beli bensin, buat beli bolpen baru (hobi saya), atau yang lainnya deh. Kalau punya uang lebih, sebaiknya kita tabung aja, atau kita masukkan reksadana supaya uang kita tidak hilang tersapu inflasi.

Ingat, orang yang hemat adalah orang yang berpikiran modern !

5 Komentar

Filed under Opini

Independency

Pada jaman sebelum kemerdekaan,demokrasi terhambat oleh ketatnya pemerintah penjajah.Pada masa Bung Karno,kebebasan terhambat oleh minimnya sarana komunikasi & informasi.Pada masa Orde Baru,kebebasan kembali harus ditahan karena pers diatur secara ketat oleh Pak Harto.

Sekarang,di orde reformasi,kebebasan bertiup dengan bebasnya,seperti burung-burung di langit.Reformasi seperti tambang emas bagi para pengejar berita.Ditambah lagi dengan globalisasi dan semakin canggihnya internet dan alat komunikasi lainnya.Lengkap sudah.

Hasilnya ? Bisa langsung dilihat di depan mata.Setiap hari bisa kita saksikan mahasiswa,buruh,PKL,supir angkot,supir bis,pembeli,seniman,artis turun ke jalan untuk berdemo.Alhasil,barisan polisi-lah yang bekerja sekuat tenaga.

Gak cuma itu.Para artis di tanah air juga sering merasa dirugikan karena berita perselingkuhan,putus cinta,atau perceraian mereka diangkat menjadi sebuah tontonan yang bisa disaksikan bahkan oleh anak jalanan.Lagi-lagi ini karena kebebasan tak bertanggung jawab.

Pancasila mengajarkan kepada kita untuk menghargai hak-hak orang lain.Tetapi justru poin inilah yang tidak banyak diperhatikan masyarakat negeri ini.

Ya,kebebasan sangat diperlukan agar kita maju.Namun janganlah kita egois,yang merugikan orang lain.

Tinggalkan komentar

Filed under Opini