Category Archives: Pendidikan

Kartun Fisika, Cara Asyik Belajar Fisika

Suatu hari ketika kuliah Faal (Fisiologi Kedokteran) tentang Biofisika, dosen saya menunjukkan daftar referensi yang digunakan untuk menyusun kuliah hari itu. Referensi yang digunakan antara lain buku standar fisiologi kedokteran seperti Guyton and Hall – Textbook of Medical Physiology, Gannong – Review of Medical Physiology, Sherwood – Human Physiology, namun ada satu referensi yang menarik saya : Larry Gonick – Kartun Fisika. Memang, pelajaran hari itu seperti mengulang sekilas tentang Fisika sewaktu SMA. Saya penasaran dan segera berburu informasi mengenai buku satu ini. Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Fakultas Kedokteran, Kedokteran, Pendidikan, Tips anak SMA

500 kata (terbaru)

Alhamdulillah, akhirnya bisa posting lagi setelah sekian lama vakum (terakhir kali saya posting adalah di bulan Juli, dan sekarang sudah Oktober).
Kali ini saya mau cerita sedikit pengalaman yang terjadi di masa awal kuliah, yaitu tentang menulis 500 kata.
Akhir-akhir ini, di tempat saya, banyak hal-hal yang berlabel 500. Seperti Aqua gelas yang harganya 500 rupiah. Parkir motor yang bayarnya 500×2 (baca : seribu rupiah). Dan tugas menulis, yang juga berasa 500, yaitu esai yang terdiri dari minimal 500 kata.
Buat yang tidak suka menulis, 500 kata mungkin akan terasa susah, iya ‘kan ? Lha wong yang sudah sering nulis aja mungkin akan menganggap 500 kata itu banyak (dan memang banyak, setidaknya butuh 2-3 halaman folio bergaris). Mungkin banyak yang terlebih dulu ‘mundur teratur’ begitu disuruh menulis tugas 500 kata. Tapi itu dulu… . Saya yakin setelah anda menyelesaikan membaca tulisan ini, persepsi anda akan tugas menulis 500 kata (atau berapapun banyaknya kata) akan berubah. Anda tidak akan lagi menganggap menulis itu hal yang sulit, tetapi anda akan menyukai menulis, bahkan 500 kata akan kurang bagi anda. Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Diary, Kuliah, Menulis, Pendidikan

Searchqu.com : Mesin Pencari Unik untuk Mahasiswa Kedokteran dan Sains

Awalnya saya mengetahui keberadaan mesin pencari ini dari teman saya, panggilannya Taf. Ketika itu kami sekelompok sedang mencari referensi-referensi untuk laporan diskusi dan praktikum, dan akhirnya saya mengetahui mesin pencari unik ini. Kenapa saya katakan unik ? Karena hasil yang ditampilkan berbeda dengan Google dan biasanya hasilnya lebih ‘nembak’ (maksudnya lebih tepat sasaran).

Penasaran ? Silahkan dicoba. Alamatnya di searchqu.com

2 Komentar

Filed under Internet, Kedokteran, Komputer, Pendidikan

Semangat Indonesia Mengajar

Gerakan Indonesia Mengajar adalah sebuah gerakan yang digagas oleh mantan mahasiswa UGM dan rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, pada tahun 2009. Gerakan ini bertujuan untuk memajukan pendidikan Indonesia di daerah pelosok dengan cara mengirim mahasiswa lulusan perguruan tinggi untuk mengajar di daerah pelosok selama 1 tahun. Mereka akan tinggal bersama penduduk, yang akan menjadi keluarga dan saudara baru mereka.

Indonesia Mengajar mempunyai semangat tinggi untuk memajukan pendidikan Indonesia, seperti cita-cita para pendiri negeri ini jauh sebelum Nusantara merdeka. Para pengajar di daerah terpencil itu rata-rata adalah mahasiswa yang cerdas, lulusan terbaik, dengan segala potensi untuk hidup nyaman, gaji tinggi, jabatan yang menjajikan dan segala macam kemewahan duniawi. Tetapi mereka tinggalkan itu semua untuk satu tujuan : Memajukan pendidikan Indonesia. Anggapan gerakan ini, pendidikan adalah kepedulian bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah.

Sebagai pelajar Indonesia, semangat Indonesia Mengajar ini perlu kita adopsi, semangat untuk berbagi ilmu. Tidak berarti kita harus pergi ke daerah terpencil untuk membagi ilmu kita, cukup dengan membagi ilmu kita di lingkungan terdekat, misalkan kepada kawan atau keluarga, itu sudah langkah awal yang baik.

Lebih jauh lagi, kita bisa memanfaatkan media yang ada seperti Facebook, Twitter, Blog, Tumblr, Yahoo! Answers dan yang lainnya untuk saling berbagi ilmu.

Kita seringkali melihat banyak orang yang mempunyai ilmu, tetapi mereka menyembunyikannya. Ketika ditanya mengapa mereka melakukan itu, jawaban mereka beragam. Ada yang menjawab bahwa ilmu mereka mereka dapatkan dengan susah payah, ada yang menjawab buat apa berbagi ilmu, ada pula yang malas, ada yang karena mereka ingin menggunakan ilmunya supaya bisa ‘menang sendiri’.

Berbagi ilmu tidak ada ruginya, bahkan semakin anda rajin membagi ilmu, ilmu anda akan semakin bertambah. Tidak pernah ada orang yang kehabisan ilmu karena sering mengajar. Kalau memang seperti itu, tentu tidak ada lagi yang namanya guru.
Tidak ada manusia yang sempurna, karena itu kita perlu bekerjasama dengan insan-insan lainnya untuk saling melengkapi, termasuk dalam hal ilmu.

Satu hal yang menarik dari gerakan Indonesia Mengajar adalah keinginan untuk membangun manusia Indonesia yang berkualitas global tanpa melupakan grassroots (asal muasal) mereka. Sebagai orang Indonesia, kita tidak boleh lupa asal-muasal kita. Kita orang Indonesia, lahir di Indonesia. Meskipun berbeda suku dan bahasa asal, kita tetap dipersatukan dalam wadah besar yang dinamakan Indonesia.

Sudah selayaknya sesama orang Indonesia saling berbagi ilmu, baik dengan bangsa sendiri maupun dengan dunia.

Yang terakhir, ada baiknya kita mencontoh cara belajar bangsa Belanda. Bangsa Belanda dikenal sebagai bangsa dengan banyak keterampilan. 80% populasi Belanda bisa berbahasa Inggris dengan fasih. Rata-rata orang Belanda bisa bahasa Inggris, Belanda, Jerman. Apa sebabnya? Itu disebabkan karena sistem pendidikan di Belanda. Di Belanda, apabila anda melakukan kesalahan, maka guru dan teman-teman anda akan membetulkan kesalahan anda tanpa mengolok-olok anda. Apabila ada murid yang tertinggal, maka teman-temannya akan membantu supaya ia sejajar dengan mereka.

Hal ini sangat berbeda di Indonesia. Apabila ada yang melakukan kesalahan, terutama ketika berpidato, berbicara atau mengerjakan soal, pasti teman-temannya akan mengolok-oloknya habis-habisan. Kalau anak itu bukan anak bermental baja, pasti dia akan minder, dan pada akhirnya tidak akan berani untuk menjadi ‘maju’. Lenyaplah satu generasi muda berpotensi. Tanpa kita sadari, hal sepele inilah salah satu penyebab bangsa Indonesia tertinggal.
Pada akhirnya, saya dan anda semua tentu berharap supaya Indonesia menjadi lebih baik lagi. Mari, dengan semangat nasionalisme, kita berbagi ilmu dan keterampilan dengan cara yang baik. Tiru mantan penjajah kita yang tidak segan berbagi ilmu, yang menyebabkan bangsa Belanda menjadi salah satu bangsa paling pintar.

1 Komentar

Filed under Gerakan Indonesia Mengajar, indonesia, Opini, Pendidikan, Solusi Indonesia