Category Archives: Solusi Indonesia

Semangat Indonesia Mengajar

Gerakan Indonesia Mengajar adalah sebuah gerakan yang digagas oleh mantan mahasiswa UGM dan rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, pada tahun 2009. Gerakan ini bertujuan untuk memajukan pendidikan Indonesia di daerah pelosok dengan cara mengirim mahasiswa lulusan perguruan tinggi untuk mengajar di daerah pelosok selama 1 tahun. Mereka akan tinggal bersama penduduk, yang akan menjadi keluarga dan saudara baru mereka.

Indonesia Mengajar mempunyai semangat tinggi untuk memajukan pendidikan Indonesia, seperti cita-cita para pendiri negeri ini jauh sebelum Nusantara merdeka. Para pengajar di daerah terpencil itu rata-rata adalah mahasiswa yang cerdas, lulusan terbaik, dengan segala potensi untuk hidup nyaman, gaji tinggi, jabatan yang menjajikan dan segala macam kemewahan duniawi. Tetapi mereka tinggalkan itu semua untuk satu tujuan : Memajukan pendidikan Indonesia. Anggapan gerakan ini, pendidikan adalah kepedulian bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah.

Sebagai pelajar Indonesia, semangat Indonesia Mengajar ini perlu kita adopsi, semangat untuk berbagi ilmu. Tidak berarti kita harus pergi ke daerah terpencil untuk membagi ilmu kita, cukup dengan membagi ilmu kita di lingkungan terdekat, misalkan kepada kawan atau keluarga, itu sudah langkah awal yang baik.

Lebih jauh lagi, kita bisa memanfaatkan media yang ada seperti Facebook, Twitter, Blog, Tumblr, Yahoo! Answers dan yang lainnya untuk saling berbagi ilmu.

Kita seringkali melihat banyak orang yang mempunyai ilmu, tetapi mereka menyembunyikannya. Ketika ditanya mengapa mereka melakukan itu, jawaban mereka beragam. Ada yang menjawab bahwa ilmu mereka mereka dapatkan dengan susah payah, ada yang menjawab buat apa berbagi ilmu, ada pula yang malas, ada yang karena mereka ingin menggunakan ilmunya supaya bisa ‘menang sendiri’.

Berbagi ilmu tidak ada ruginya, bahkan semakin anda rajin membagi ilmu, ilmu anda akan semakin bertambah. Tidak pernah ada orang yang kehabisan ilmu karena sering mengajar. Kalau memang seperti itu, tentu tidak ada lagi yang namanya guru.
Tidak ada manusia yang sempurna, karena itu kita perlu bekerjasama dengan insan-insan lainnya untuk saling melengkapi, termasuk dalam hal ilmu.

Satu hal yang menarik dari gerakan Indonesia Mengajar adalah keinginan untuk membangun manusia Indonesia yang berkualitas global tanpa melupakan grassroots (asal muasal) mereka. Sebagai orang Indonesia, kita tidak boleh lupa asal-muasal kita. Kita orang Indonesia, lahir di Indonesia. Meskipun berbeda suku dan bahasa asal, kita tetap dipersatukan dalam wadah besar yang dinamakan Indonesia.

Sudah selayaknya sesama orang Indonesia saling berbagi ilmu, baik dengan bangsa sendiri maupun dengan dunia.

Yang terakhir, ada baiknya kita mencontoh cara belajar bangsa Belanda. Bangsa Belanda dikenal sebagai bangsa dengan banyak keterampilan. 80% populasi Belanda bisa berbahasa Inggris dengan fasih. Rata-rata orang Belanda bisa bahasa Inggris, Belanda, Jerman. Apa sebabnya? Itu disebabkan karena sistem pendidikan di Belanda. Di Belanda, apabila anda melakukan kesalahan, maka guru dan teman-teman anda akan membetulkan kesalahan anda tanpa mengolok-olok anda. Apabila ada murid yang tertinggal, maka teman-temannya akan membantu supaya ia sejajar dengan mereka.

Hal ini sangat berbeda di Indonesia. Apabila ada yang melakukan kesalahan, terutama ketika berpidato, berbicara atau mengerjakan soal, pasti teman-temannya akan mengolok-oloknya habis-habisan. Kalau anak itu bukan anak bermental baja, pasti dia akan minder, dan pada akhirnya tidak akan berani untuk menjadi ‘maju’. Lenyaplah satu generasi muda berpotensi. Tanpa kita sadari, hal sepele inilah salah satu penyebab bangsa Indonesia tertinggal.
Pada akhirnya, saya dan anda semua tentu berharap supaya Indonesia menjadi lebih baik lagi. Mari, dengan semangat nasionalisme, kita berbagi ilmu dan keterampilan dengan cara yang baik. Tiru mantan penjajah kita yang tidak segan berbagi ilmu, yang menyebabkan bangsa Belanda menjadi salah satu bangsa paling pintar.

Iklan

1 Komentar

Filed under Gerakan Indonesia Mengajar, indonesia, Opini, Pendidikan, Solusi Indonesia

Mandiri Saja Tidak Cukup

Kita semua tahu, supaya Indonesia bisa unjuk gigi Indonesia harus mandiri. Kabar baiknya, Indonesia sudah mandiri. Kalau saja kita mau membuka mata, telinga, hati, dan pikiran, lihat sekitar kita, banyak inovasi anak-anak Indonesia, bukan satu, tapi ada banyak sekali.

Dari kalangan IT pasti tahu wajanbolic, temuan anak bangsa asli. Yang terakhir adalah penemuan mobil Gea, mobil kecil hemat bahan bakar. Yang tidak kalah menarik adalah ubin dari pelepah pisang, pestisida alami dari bawang dan bahan lain. Indonesia bahkan sudah mampu membuat banyak robot yang diakui dunia. Indonesia sudah mampu membuat TV, Tape, Laptop, Komputer, Mobil, bahkan bandara mereka sendiri (di Lombok, Medan, Makassar) dengan tangan sendiri dengan konstruksi yang luar biasa indahnya.

Bukankah kita sudah cukup mandiri ? Beras sudah swasembada, gula sudah cukup, segala tumbuhan bisa hidup di Indonesia. Kalau begitu kenapa kita masih import ? Bukannya memberikan motivasi dan dukungan kepada produksi dalam negeri. Bila kita import, kita sudah memupus kesempatan bangsa kita yang mandiri untuk unjuk gigi.

Kesimpulannya, mandiri saja tidak cukup. Kita harus memberi kesempatan pada mereka-mereka yang mandiri untuk membuktikan kebolehan mereka. Bila hal ini terus menerus, kita tidak butuh lagi import televisi, mobil, motor, laptop, beras, gula, dan yang lainnya karena kita bisa memproduksinya sendiri. Dilihat dari sisi ekonomi, ini jelas menguntungkan karena biaya jelas akan lebih murah. Bila kualitasnya bagus dan kemudian diekspor, kita bisa menjadi Amerika Serikat berikutnya. Langkah awal yang sangat baik adalah pelunasan hutang IMF dan pembubaran CGI.

Dari blog INdra !

Foto : Bandara Selaparang Lombok

Dari blog INdra !

Foto : Bandara Sultan Hasanuddian Makassar

Dari blog INdra !

Foto : Bandara Kuanalamu Medan

Dari blog INdra !

Foto : Bandara Walter Monginsidi Kendari
Sumber foto : http://akhyari.blog.friendster.com/

Bila ada dan berkenan, mohon beri tanggapan.

2 Komentar

Filed under Kemandirian, Opini, Solusi Indonesia

Meninggal Setelah Minum Ponari Sweat

Ponari Sweat, mengutip rubrik Cari Angin di Tempo, adalah minuman buatan Ponari yang dicelup oleh batu saktinya. Minuman inilah yang diminum oleh wartawan yang sedang mewawancarai Pak ‘S’ (juga dari Cari Angin).

Suatu hari (kalau tidak salah hari ini atau mungkin kemarin), saya membaca di bahwa salah seorang pasien Ponari meninggal dunia setelah berkali-kali minum Ponari Sweat.

Sebenarnya kejadian ini disebabkan pemerintah tidak mampu menyediakan layanan kesehatan yang murah dan profesional. Bahkan, harga obat di Indonesia adalah yang termahal di dunia, karena itu, mereka mengambil jalan pintas dengan mendatangi Ponari.

Yang tidak kalah pentingnya, Ponari juga mengandalkan sugesti. Pasien-pasien Ponari punya keyakinan kuat bahwa mereka akan sembuh, karena itu mereka akan lebih mudah sembuh.

Yang lebih berbahaya lagi, beberapa pasien percaya bahwa yang menyembuhkan mereka adalah batu milik Ponari. Ini sudah termasuk syirik. MUI Jombang pun turun ke lapangan untuk mengarahkan kembali niat para pasien.

1 Komentar

Filed under indonesia, Opini, Ponari, Solusi Indonesia

Mulai Untuk Mandiri !

Orang-orang Indonesia sebenarnya kreatif. Ini terbukti dengan adanya penemuan-penemuan unik hasil inovasi anak bangsa.

Profesi-profesi tertentu juga tidak kalah. Indonesia punya tanah subur dimana-mana. Negara kita terkenal sebagai agraris. Wilayah laut Indonesia luas, dan harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan bangsa dan negara.

Karena itu, pemerintah harus menstop import terhadap barang-barang tertentu. Kebijakan proteksi harus dilakukan untuk melindungi petani, nelayan, dan pekerja industri. Barang-barang yang bisa diproduksi dalam negeri tidak perlu diimpor.

Indonesia harus sesegera mungkin melepaskan ketergantungan terhadap dana bantuan asing. Utang luar negeri kita saat ini mencapai USD 100 Triliun.

Saatnya kita bangkit untuk menjadi bangsa yang mandiri !

Sent from my phone using trutap

1 Komentar

Filed under Solusi Indonesia

Seharusnya Indonesia Punya 3 Ibukota : Solusi Kependudukan, Pembangunan, dan Ekonomi

63 tahun Indonesia Merdeka, sudah begitu lama bebas dari Belanda, tapi kok malah tambah banyak maalah ? Ada apa sebenarnya ?

Jakarta semakin padat, semakin rapat, serasa dunia dimampatkan, bikin sesak napas (habis udaranya kotor sih !). Sejauh mata memandang hanya ada beton-beton kaku dari gedung-gedung pencakar langit. Udara penuh polutan mematikan pun menyelimuti kota ini. Langit biru tak lagi menjadi pemandangan yang memanjakan mata kecilmu.

Jakarta tambah parah, ya nggak ? Mau gimana lagi, habis tiap hari yang ada macet melulu ! Belum lagi banjir, pembangunan monorail yang terbengkalai, pelanggaran lalu lintas (sudah biasa :-P), parkir sembarangan (sudah biasa :-P), jalan rusak (luar biasa :-D !), sekolah ambruk, tata kota semrawut, harga barang mahal (semoga besok turun), dll. (Masih ada banyak banget yang belum ditulis di sini).

Kalau Jakarta dibilang strategis, kayaknya gak terlalu deh ! Kekuasaan Belanda dulu ’kan cuma dikit, mereka juga punya kantor di tiap provinsi jajahan. Dulu Belanda, Portugis, dan bangsa-bangsa penjajah lain merebut Batavia karena letaknya strategis dan sangat cocok untuk merebut Malaka. Letaknya juga di tengah-tengah Hindia-Belanda.

Sekarang ? Wah ! Sudah bukan ditengah-tengah, tapi di pinggir, apalagi setelah Papua masuk ke pangkuan NKRI. Selain itu, daerah Indonesia Tengah dan Timur sudah ketinggalan pembangunannya (hanya Bali yang kemajuannya sangat pesat karena Pariwisata).

Sejak reformasi 1998, keadaan Indonesia Tengah dan Timur tidak banyak berubah. Tepat 21 Mei 2008, kita meniup kue “10 tahun reformasi”.

Aku punya usul, bagaimana kalau Indonesia dibagi menjadi 3 wilayah besar : Indonesia Barat (Jawa, Sumatera, Bali), Indonesia Tengah (Kalimantan, Sukawesi, Nusa Tenggara), dan Indonesia Timur (Maluku, Papua). Lalu, dibuat ibukota-ibukota di tiap-tiap wilayah besar itu, seperti Jakarta (Indonesia Barat), Makassar (Indonesia Tengah), dan Jayapura (Indonesia Timur).

Dengan dibagi menjadi 3 wilayah besar beserta ibukota itu, niscaya beban Jakarta tidak akan terlalu berat. Transmigrasi bisa merata, pun rakyat Indonesia Tengah dan Timur tidak telat pembangunannya. Namun, pusat politik dan pemerintahan tetap di Jakarta. Jakarta tetap bertindak sebagai ibukota pusat.

Potensi daerah harus dikelola sebaik mungkin. Saya memilih Makassar dan Jayapura karena daerah ini punya potensi bagus untuk menjadi ibukota. Siapa tahu, dengan sistem 3 ibukota, penduduk Indonesia di Jawa akan pindah ke Indonesia Tengah dan Timur, sehingga Jawa tidak akan terlalu padat.

Memugar daerah menjadi ibukota memang butuh waktu lama dan biaya tidak sedikit. Tapi bukan tidak mungkin ’kan ?

Tinggalkan komentar

Filed under Solusi Indonesia

A Mild : Iklan Yang Saya Nilai Jujur

Inilah beberapa contoh iklan dari A Mild (Maaf kalau gambarnya agak berantakan. Semua pasti sudah akrab dengan iklan-iklan A Mild, yang isinya banyak menyindir masyarakat pada umumnya.

Beberapa iklannya, seperti “Taat Kalo Cuma Ada Yang Liat”, “Yang Muda Gak Dipercaya”, “YAng Muda Belum Boleh Bicara”, “YAng Muda Dipandang Sebelah Mata”. Coba kita renungi, kata-kata ini memang sangat nyata di kehidupan kita.

Sebagai contoh, di tempat les saya ada seorang guru baru, usianya masih sangat muda, baru lulus kuliah mungkin. Tetapi sayangnya, perhatian murid-murid kepadanya begitu minim, mungkin karena dia masih muda kali ?

BAguslah, ada yang berani mengangkat fakta dan realita seperti ini. Teruslah berkarya, sadarkan masyarakat.

3 Komentar

Filed under Iklan, Opini, Solusi Indonesia

PLTN : Solusi Dari Masalah Listrik di Indonesia

Tahun lalu di TV sempat diberitakan tentang pembangunan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) Muria. Rencana proyek ini menimbulkan banyak pro & kontra dari masyarakat. Namun apakah penolakan dari masyarakat itu semata-mata karena mereka benar-benar tidak suka ? Saya rasa TIDAK ! PAsti ada pihak lain yang menghasut mereka agar mereka tidak menyetujui proyek PLTN.

Udah ah, kita gak perlu mikirin masalah itu saat ini. Mendingan sekarang kita bahas aja seluk-beluk, sisi positif dan negatif, serta manfaat PLTN bagi kemajuan bangsa Indonesia. Saya awali dahulu dengan sebuah berita yang dimuat di metro hari ini tanggal 22 Februari 2008. BAru saya akan membahas. ENJOY THIS SPECIAL NEWS !

Karena cuaca buruk, pengiriman batu bara ke sejumlah PLTU terhambat. Akibatnya, pemadaman bergilir terpaksa dilakukan. Hal ini agar stok batu bara yang tersisa mencukupi.

Pemadaman ini jelas bukan solusi yang baik. Pemadaman di Sumatera Utara dan Aceh mengakibatkan kegiatan ekonomi menjadi terhambat. Apalagi sektor industri dan pertokoan, yang membutuhkan banyak tenaga listrik. Pemadaman ini ternyata berlaku juga bagi traffic light, Akibatnya, sejumlah warga harus berswadaya turun ke jalan untuk mengatur lalu lintas.

It’s time to review.

Semakin lama di Indonesia semakin banyak berdiri industri, perumahan, dan perkantoran. Semua itu membutuhkan daya listrik dalam jumlah besar. Apalagi saat ini kita dihadapkan pada kenyataan akan pemanasan global. Solusi terbaik untuk ini adalah PLTN !

Yes, nuklir adalah tenaga yang bebas polusi, bersih, dan ramah lingkungan. Selain itu dengan PLTN kebutuhan listrik akan terpenuhi sehingga tidak akan ada pemadaman bergilir lagi di Indonesia. Juga, pemerintah tidak usah mengeluarkan minyak bumi atau batu bara 1 gram pun untuk ini. Jadi, APBN untuk subsidi BBM bisa dikurangi. Dengan begini, Indonesia akan terbebas dari lilitan utang luar negeri dan Indonesia akan menjadi negara maju IN NO TIME !

Melihat berbagai keuntungan di atas, wajar saja bila ada pihak yang ingin menghentikan proyek ini. ‘KAn ada pihak yang tidak suka Indonesia terbebas dari utang luar negeri dan menjadi negara maju. Karena itulah saya mengatakan tidak semua orang dengan jujur menolak pembangunan PLTN karena dihasut oleh pihak-pihak semacam ini.

NAmun pembangunan PLTN harus dilaksanakan dengan amat hati-hati. Hal ini karena nuklir ternyata adalah sumber enrgi yang amat berbahaya. Mungkin aada trauma melihat kejadian di Chernobyl. Ketika itu, reaktor 4 meledak. Suhu ledakan reaktor nuklir bisa mencapai 1000 kali suhu matahari (15.000.000 x 1000= 15.000.000.000 celcius atau 15 milyar derajat celcius). Daerah sekitar reaktor 4 kini dipasang pagar kawat besi karena mengandung radiasi radioaktif yang sangat merusak. Selain itu, sampah nuklir tetap radioaktif selama ribuan tahun.

Wajar saja ada pihak yang khawatir, sebab pembangunan di Indonesia masih dilaksanakan dengan ceroboh dan ada praktik KKN. KAlau Rusia yang melakukannya dengan hati-hati saja bisa bocor, apalagi dengan Indonesia yang sembrono. Biaya pembuatan PLTN juga sangat mahal. Pembangunan satu reaktor saja memerlukan dana Rp 27 miliar, padahal pemerintah berencana membangun 5 reaktor. Nah Lo !

Tetapi kita patut mencoba, apalagi ini ‘kan hal positif yang bisa menyelamatkan bangsa Indonesia. PLTN merupakan cara terbaik dan satu-satunya untuk mengatasi masalah listrik di Indonesia. KArena itu, patut dicoba bukan ?

Tinggalkan komentar

Filed under Solusi Indonesia